• Jumat, 9 Desember 2022

Mengenal Nilai Moral Melalui Seloko Adat Jambi

- Minggu, 1 November 2020 | 07:49 WIB
JAMBI (Indonesiadaily.co.id),- Sebagai daerah yang mewarisi nilai-nilai luhur peninggalan kerajaan melayu islam, Jambi memiliki adat istiadat yang umumnya diwarnai Adat bersendi syara', syara' bersendi Kitabullah (Al-Qura'an). Salah satu kekayaan budaya yang terus terjaga hingga saat ini sebagai bagian dari pengaturan etika dan moral masyarakat jambi dalam kegiatan sosial sehari-hari; Seloko Adat Jambi. Seloko Adat Jambi merupakan tatanan adat yang menjadi rambu-rambu dalam hubungan interaksi masyakat Jambi, dan juga merupakan bagian dari hukum adat yang selalu dipatuhi masyarakat Jambi. Dari penelusuran indonesiadaily.co.id, seperti dikutip dari laman https://www.yaqin.id, Seloko adat Jambi adalah ungkapan yang mengandung pesan, atau nasihat yang bernilai etik dan moral, serta sebagai alat pemaksa dan pengawas norma-norma masyarakat agar selalu dipatuhi. Isi ungkapan seloko adat Jambi meliputi peraturan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya dan kaidah-kaidah hukum atau norma-norma, senantiasa ditaati dan dihormati oleh masyarakatnya karena mempunyai sanksi. Ungkapan-ungkapan seloko adat Jambi dapat berupa peribahasa, pantun atau pepatah petitih. Seloko adat Jambi juga merupakan pandangan hidup atau pandangan dunia yang mendasari seluruh kebudayaan Jambi. Seloko adat Jambi juga merupakan sarana masyarakatnya dalam merefleksikan diri akan hakikat kebudayaan, pemahaman mendasar dari pesan dan tujuan dari sebuah kebudayaan (Amali Muadz). Salah satu contoh seloko adat Jambi adalah mengenai pengambilan keputusan dalam pemerintahan, seloko adat Jambi menyebutkan bahwasanya: “Berjenjang naik betanggo turun, turun dari takak nan di atas, naik dari takak nan di bawah”, seloko adat tersebut mempunyai pengertian bahwasanya dalam mengambil keputusan terdapat tingkatan-tingkatan pengambilan keputusan. Tingkatan pengambilan keputusan ini misalnya tingkat pengambilan keputusan yang tertinggi, yaitu Alam nan Barajo, sampai dengan sebuah pengambilan keputusan pada tingkatan yang paling bawah Anak nan Berbapak, Kemenakan nan Bermamak. Seloko adat lainnya yang sangat banyak jumlahnya, misalnya seloko adat yang mengatur dalam kehidupan berkelompok (masyarakat), dalam hal pergaulan sehari-hari, dan sebagai bentuk nasihat dalam menjalani kehidupan di dunia. Seloko adat merupakan salah satu bentuk warisan leluhur yang tidak boleh dibuang begitu saja. Harus dilestarikan dan diturunkan kepada anak cucu, agar mereka mengetahui betapa generasi tua mereka adalah generasi yang menjunjung tinggi adat dan budaya ketimuran. Seloko Adat Jambi Lain padang lain ilalang, lain lubuk lain ikannya begitu juga lain tempat, lain pula pepatah adatnya. Berikut ini saya sajikan beberapa pepatah adat yang ada di tengah masyarakat Jambi sebagai bagian dari khasanah kebudayaan Indonesia: Pemimpin itu hendaknyo ibarat sebatang pohon, batangnyo besak tempat besandar, daunnyo rimbun tempat belindung ketiko hujan tempat beteduh ketiko panas, akarnyo besak tempat besilo.. pegi tempat betanyo, balik tempat babarito. (Pemimpin itu hendaknya jadi pengayom) Janganlah Telunjuk lurus, kelingking bekait.. ( janganlah lain di kata lain di hati) Jangan menggunting kain dalam lipatan, menohok kawan seiring.. (jangan menghianati kawan sendiri) Hendaknyo masalah iko Jatuh ke api hangus, jatuh ke aek hanyut. (hendaknya masalah ini cukup selesai di sini/cukup sampai di sini) Hendaknyo tibo nampak muko, balik nampak punggung. (hendaknya datang secara baik-baik, pergi juga secara baik-baik) Awak pipit nak nelan jagung (impian yang terlalu besar, impian yang tidak mungkin) Pegi macang babungo, balik macang bapelutik. (istilah yang dipakai untuk orang yang merantaunya hanya sebentar) Kalu aek keruh di muaro, cubo tengok ke hulu (Kalau ada suatu masalah terjadi, cobalah lihat dulu penyebabnya) Tepagar di kelapo condong, batang di awak buah di kanti (Istilah ini dipakai untuk yang salah menikahi pasangannya, raga millik kita tapi cinta milik orang lain) Itulah beberapa pepatah/sloko adat Jambi yang bisa saya informasikan, tentunya masih banyak lagi pepatah-pepatah lain yang sering dipakai dalam keseharian maupun dalam acara adat masyarakat Jambi.. Petatah Petiti, Pantun, Seloko Adat Jambi Petatah petitih adalah merupakan sastra adat jambi yang berisikan nasehat dan pandangan-pandangan serta pedoman hidup yang baik, yang berisikan petunjuk-petunjuk dalam melakukan hubungan social dalam masyarakat. Contohnya : Kurang sisik rumput menjadi Kurang siang jelupung tumbuh Artinya : Apabila dalam menghadapi setiap masalah, jika kurang hati-hati atau teliti, maka akan berakibat buruk. Kecik dak besebut namo Besak dak besebut gela Artinya : Antara miskin dan kaya tidak ada perbedaan, yang miskin tidak disebutkan, yang kaya tidak dikatakan kaya. Menarik rambut dalam tepung Rambut jangan putus Tepung jangan terserak Artinya : Jika menyelesaikan sesuatu maka berhati-hatilah Negeri aman padi menjadi Air jernih ikannyo jinak Rumput mudo kerbaunyo gemuk Turun kesungai cenetik keno Naik kedarat perangkap berisi Artinya : berdoa serta mengharap kebahagiaan dan keselamatan negeri Kalau lah memahat diatas baris Kalau mengaji lah diatas kitab Rumah sudah jadi Ganden dan pahat dak bebunyi lagi Artinya : Setiap masalah apabila sudah diselesaikan (dimufakatkan) maka tidak akan atau tidak lagi timbul masalah itu dikemudian hari. Supayo disisik disiangi dengan teliti Dak ado silang yang idak sudah Dak ado kusut yang idak selesai Artinya : Setiap masalah pasti ada jalan keluarnya, maka harus diteliti dengan baik dan diusahakan selesai dengan baik. Bejalan hendak menepi Supayo idak tepijak kanti Becakap piaro lidah Supayo kanti idak meludah Artinya: Jika hendak berbuat haruslah berhati-hati Di bulekkan karno nak digulingkan Di pipihkan karno nak dilayangkan Bulek aek dek pembuluh Bulek kato dek mufakat Artinya : Setiap masalah dicari jalan keluarnya, dan dicari kesepakatanya (mufakat). Bunyi siamang dibukit pangkah Turun kelukuk makan padi Kalau tergemang ulak langkah Sementaro main belum jadi Artinya : Orang tua ikut memperhatikan gerak-gerik atau tingkah laku atau budi pekerti anak-anaknya Bagaimano nian kelamnyo kabut Mato jangan di pejamkan Bagaimano susahnyo hidup Namun sembahyang jangan ditinggalkan Artinya : Bagaimanapun sulitnya hidup yang dijalani, jangan sampai meninggalkan shalat lima waktu. Kalau pandai berkain panjang Lebih dari kain sarung Kalu pandai berinduk semang Lebih dari ibu kandung Atrinya :contoh kisah orang yang ingin meninggalkan kampong halamanya dan ingin tinggal dikampung orang lain, disebut juga merantau. Bulat dapat digulingkan Pipih dapat dilayangkan Putih berkeadaan Merah dapat dilihat Panjang dapt diukur Berat dapat ditimbang Artinya : setiap keputusan seharusnya, dapat diuji kebenarannya dengan jelas menurut ukuran keadilan dan kepatutanya Berjenjang naik bertanggo turun Turun dari takak nan di atas Naik dari takak nan di bawah Artinya : Setiap dalam pengambilan keputusan terdapat tingkatan-tingkatan pengambilan keputusan. Rumah sudah, pahat idak berbunyi Api padam puntung tidak berasap Yang terjatuh biarlah tinggal Yang terpijak biarlah luluh Artinya : Dalam menetapkan keputusan yang berat atau rumit, harus dikuatkan dengan Janji setia menurut kenyataan hukum adat tersebut sangat besar pengaruhnya dalam menata kehidupan masyarakat yang taat kepada hukum.(*)   Inda/berbagai sumber  

Editor: Hery Rawas

Terkini

Banjir di Depan Mata, Proyek BWSS VI Tak Kunjung Tiba

Selasa, 29 November 2022 | 19:18 WIB

Haul Syekh Abdul Qadir al Jailani di Jambi

Rabu, 23 November 2022 | 14:07 WIB

Kejurprov Tenis Meja Jambi, Muaro Jambi Juara 2

Senin, 21 November 2022 | 08:34 WIB

Banyuwangi Terendam Banjir, 3 Sungai Meluap

Senin, 17 Oktober 2022 | 20:19 WIB
X