“Nepakke Karo Awake Dhewe”, Adab Cerdas Berkebebasan

- Rabu, 26 April 2023 | 08:05 WIB
Ilustrasi kritik kegagalan “Nepakke Karo Awake Dhewe”, Adab Cerdas Berkebebasan (Pixabay)
Ilustrasi kritik kegagalan “Nepakke Karo Awake Dhewe”, Adab Cerdas Berkebebasan (Pixabay)

Oleh; Amir Machmud NS (*)

JIKA Anda mengujari seseorang dengan konotasi status yang berpotensi menciptakan ketidaknyaman, terpikirkah andai dengan nada yang sama ujaran itu dialamatkan kepada Anda sendiri, atau kepada keluarga Anda?

Jika Anda menyerang martabat seseorang lewat media sosial dengan intensi tertentu, terbayangkankah apa yang dirasakan oleh orang yang menjadi objek ujaran itu?

Dalam ajaran adiluhung Jawa dikenal ungkapan “nepakke karo awake dhewe”. Artinya, sebelum mengucap atau melakukan sesuatu kepada pihak lain, bayangkanlah terlebih dahulu bagaimana seandainya hal itu dilakukan orang kepada diri kita.

Viral ucapan Bima Yudho Saputro, Tiktoker asal Lampung yang menyebut Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dengan kata ganti tertentu, mengingatkan tentang ajaran tersebut. Apalagi ketika tokoh PDIP Hendrawan Supratikno menyentil mengenai pentingnya adab dalam kebebasan.

Bima mengomentari wawancara Najwa Shihab dengan Ganjar Pranowo. Najwa memancing, apakah keputusan menolak kehadiran Israel di Piala Dunia U20 merupakan perintah Megawati Soekarnoputri atau bukan.

Dalam Tiktok-nya Bima berujar, “Udah ketebak dah, lagian disuruh ngomong sama itu janda, janda satu itu, lo nurut. Aduh udah deh enggak usah ditanggepin…”

Menurut politikus senior PDIP Hendrawan Supratikno (cnnindonesia.com, 23 April 2023), seharusnya Bima bisa membekali diri dengan pengetahuan yang substantif. Hendrawan mendorong sikap kritis anak-anak muda, namun juga mengingatkan, dalam kebebasan berpendapat tetap dibutuhkan adab, dengan landasan pemahaman ilmiah dan kearifan kultural.

Akhirnya Bima meminta maaf melalui klarifikasi di akun @awbimaxreborn, Minggu (23/4). Dia mengaku sedang mengungkapkan isi hati mengenai kegagalan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia U-20. “Di situ tuh, gue tidak bermaksud untuk menggunakan konotasi janda itu kayak buruk ya. Gue bilang karena mengungkap kekesalan gue ketika itu Piala Dunia dibatalkan. Gue cuma menyuarakan isi hati gue sendiri,” ujar Bima (cnnindonesia.com, 24 April 2023).

Dia juga beralasan, karena bekerja di bidang media sosial, kata “janda” itu digunakan untuk mengundang perhatian banyak orang.

Simpati

Nama Bima viral ketika kritiknya tentang kondisi jalan di Lampung menimbulkan beragam reaksi. Dia mendapat banyak simpati karena Gubernur memberi respons yang cenderung kontraproduktif. Akan tetapi, unggahan Bima tentang “janda” meluruhkan simpati netizens terhadap kritiknya tentang Lampung.

Apa artinya? Kritik konstruktif untuk kepentingan publik lewat media sosial akan memberi manfaat, namun berujar dengan intensi ofensif secara personal bisa berefek sebaliknya. Walaupun yang diserang adalah figur publik, akan tetapi respek kepublikan akan hilang dan berpotensi menimbulkan antipati.

Apakah ungkapan “Gue cuma menyuarakan suara hati gue sendiri” dan “menggunakan kata janda untuk mengundang perhatian banyak orang” bisa menjadi justifikasi bahwa kita boleh ngomong apa saja, tertuju kepada siapa pun, entah itu berakibat menyakiti, melukai, atau menimbulkan kemarahan?

Halaman:

Editor: Hery FR

Artikel Terkait

Terkini

X