• Jumat, 9 Desember 2022

ISLAM RASIONAL LONGITUDINAL: MENGINJEKSI UMAT UNTUK “BANYAK MEMBAGI“ DAN MENGEDUKASINYA AGAR “SEDIKIT MENGALI”

- Jumat, 14 Mei 2021 | 11:32 WIB

Oleh: Adrians Chaththab

I Di dalam ajaran Islam, baik teoretik maupun praktik,ada yang namanya huququllah dan huhuqulal-ibad ( hak-hak Allah dan hak-hak hamba/ manusia ).Karenanya sebagai makhluk ciptaanNya yang dilengkapi akal pikiran, dan hati/rasa serta nafsu syahwat diberi beban dan kewajiban yangmesti dilaksanakan berupa amar-ma’ruf dan nahi-mungkar. Di samping itu pada posisi yang adil, manusia menerima hak-haknya sebagai  “jasa” atas suksesnya sesorang dalam beramar-ma’ruf dan bernahi mungkar. Posisi, kondisi, situasidan aksi seperti ini hanya khusus untuk manusia karena janjinya (MoU) pertama yang tertuang dalam kitab suci Alqur’an:الست بربكم  ،  قالوا بلي شهدنا...QS, 6:30) serta: وما خلقت الجن والانس الا ليعبدون ...(QS,  51  :  56   ).Makhluk lain seperti batu, binatang dan tumbuhan tidak tersentuh oleh amanah ini. Justeru, beribadah dan beramal shalehmenjadi tugas utama tanpa dipaksa; hanya memerlukan kesadaran ekstra, karena nilai beribadahdan beramal shaleh atau tidak; tifak  adauntung ruginya bagibAllah sebagaimana narasi dan diksi dari Allah sendiri:ومن عمل صالحا فلنفسه ومن اساء فعلييها وما ربك بظلام للعبيد/( QS, 41:46)ومن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر...( QS; 18 : 29 ). Begitu beban disandang, maka konsekwensinya adalah tanggung jawab. Bila sukses dengan tanggung jawab, maka prestasi itu diberi imbalan yakni pahala yang berdampak pada bahagia di dunia dan akherat; bersenda tawa bersama Malaikat Ridwan di syurga, serta terhindar dari azab neraka; minimal “hardikan” Malaikat Malik di nerakaربنا  اتنا الدنيا حسنة وفي الاخرة حسنة وقنا عذاب النار Tata urut seperti di atas mengilustrasikan bahwa Islam rasional dan longitudinal. Rasionalitas dan longitudinalitasteruji dan terukur dan  dapat diterima akal ( ma’qul ) karena ia menyatukan aktifitasotak, hati dan otot (baca: syahwat) yang terstruktur, terorganizerserta terkontrol di bawah satu komando ( baca: tupoksi )keberimanan, keberislaman dan keberihsanan. Allah adalah tujuan; manusia adalah pelaku; sementara hak dan kewajiban adalah alat yang dalam kajian manajemen dapat diterjemahkan sebagai man, tool dan aim. Dalam perspektif ini, mari kita telusuri  posisi zakat dan infaq dalam nilai “memberi dan menerima” atau dalam istilah lain “ mambagi dan mengali”untuk menginjeksi dan mengedukasi umat. II Sadaqah, infaq dan zakat menjadi nilai utama dan unik  pada bulan Ramadhan dan beriidil fitri saling mengkait terutama  dalam urusan ibadah sosial yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan, paling tidak “ menggembirakan “ fakir-miskin untuk sesa’at.Namun sesungguhnya bermisi untuk menggembirakan thehave notmesti berketerusan sampai ia mandiri. Itulah pesan inti dari zakat atau shadaqohitu bernuansa ganda; konsumtif dan produktif. Yang pertama bahwa zakat itu hanya sekedar menhilangkandahaga seketika bagi si miskin. Sementara bagi yang menunaikannya hanya  tidak lebih dari sekedar lepas kewajiban tuntutan agama. Maka akan sangat bermanfa’at, jika zakat itu diproduktifkan, sehingga tidak lahir lagi miskin permanen yang dampaknya sangat ditakuti yakni bisa membuat seseorang kufrdan ingkar terhadap agamanya sendiri dan bisa merusak tatanan berbangsa dan bernegara.Kondisi seperti inilah yang memberi ruang untuk mempercepat konversi agama: كاد الفقر ان يكون كغرا/  hampir bisa kefakiran membuat seseorang menjadikufr. Dalam kaitandengan pelaksanaan puasa Ramadhan dan membayar zakatfitrah, infaq, sadaqahĺ dengan beridil fitri, memberikan shadaqah adalah urgen dan sentral bagi  amal sosial sebagai salah satu bukti bahwa nilai manusia adalah seberapa tinggi taqwanya: ان اكرمكم عند الله اتقاكم...  ( al-ayat )Bahwa kekuatan iman dan kekuatan islamnya akan teruji dengan mengeluarkan shadaqah berupa zakat, infaq; terutama zakat fitrah sebagai khatam  puasa ramadhan. Ada 2 kewajiban sebelum mengakhiri puasa yakni : 1) menyempurnakan jumlah hari puasadan mengagungkan Allah:لتكمل العدة ولتكبر الله ما هداكم   (al-ayat). 2) membayar zakat fitprah sebagai pembersih jiwa; karena menurut Nabi SAW. bahwa  pahala puasamasiihngambang di angkasa sebelum zakat firahnya ditunaikan. III Zakat  dalam pengertian sederhana adalah mengeluarkan sebahagian harta kekayaan  yang kadar/ukuranya ditentukan Allah yang diperuntukan pada ashnaf/penerima sah yang jumlahnya 8 kelompok/ penggolongan. Tujuannya memupuk rasa sosial sesama hamba Allah. Rasa sosial perlu ditumbuhkan karena Iameciptakan manusia berstrata; ada yang kaya dan ada yang miskinmerupakan keniscayaan yang sulitdipungkiri bahwaada rahasia di balik kenyataan itu.; antara lain untuk kebersamaan, saling hormat, saling membutuhkan dansaling tolong. Tidak akan ada istilah orang kaya,  kalau tidak orang miskin. Kalau Allah ciptakan semua orang kaya, maka rasasosial tidak tak akan tumbuh. Bisa saja yang tumbuh egoistis, individualistis di tengah-tengah masyarakat yang berujung pada sifat sombong dan congkak. Sementara, manusia tidak bisa hidup sendiri dan menyendiri. Kata Allah: انا خلقناكم من ذكر وانثي وجعلناكم شعوبا وقباءل لتعارفوا ان ارمكم عند الله اتقاكم/(al-Ayat)Kami ciptakan kamu ( manusia ) berkelompok’ bersuku-suku untuk kebersamaan; diantarasesamu yang paling mulia di mata Allah adalah yang palimgtaqwa; bukan yang paling kaya. Plato menyebut kelompok manusia itu dengan zoonpoliticon ( binatang yang kepentingan bersama); al-Farabi dan IbnSina menyebutnya dengan حيوان ناطق / hewan yang punya akal pikiran. Jadi dalam konteks ini yang membedakan manusia dengan hewan dan makhluk lain adalah pemikiran dan perasaannya. Apabiila keduanya itu tidak difungsikan oleh manusia, ketika itu ia sama dengan binatang; tidak bisa berpikir dan tidak bisa membedakan baik dan buruk serta tidak bisa merasa rasasakit yang orang lain rasakan. Hidup  bersama dalam berpikir dan merasa itulah manusia tidak bisa berkendiri, tapi saling membutuhkan satu sama lain; saling tolong-menolong dalam hidup bermasyarakat. Nabi mencontohkan bahwa seseorang dengan lainnya seperti bangunan yang menguatkan sesamanya, kemudian Nabi mencontohkan secaraporfosional antarajari-jemari manusia. Apa fungsi empu jari,  apa pula funsi telunjuk; seterus jari tengah dan di bawah jari tengah sampai dengan kelingking. Ada tupoksi pribadi dan ada pula tupoksijama’i/kolektif. Dalam menunjuk jari telunjuk bisa  menunjuk secara individu; akan tetapi ketika memegang harus himpunan secara bersama.Begitulah hidup kolektif yang ramahlingkumgan, tanpa menafikan kerja individu. Zakat menyatukan anak manusia di bawah membinakehidupan bersamayang saling membutuhkan. Yang miskin membutuhkan dana dan yang kaya membutuhkan bantuan   dan tenaga.Harmonisasi itulah yang ditumbuh-kembangkan oleh ajaran Islam. Bila kenyataan di lapangan timpang, maka timpang pula “ rumah  Islam” itu; bisa dalam bentuk kemiskinan dan tidak tertutup pula kemungkinannya dalam ketidakadilan hidup bersama itu. IV   Untuk mengatasi tidak terjadi gejolak di tengah masyarakat, maka konsep ekonomi Islamberbeda dengan konsep Barat yang kapitalis dan Cina dengan sekutunya yang komunis  sosialis. Kapitalisme memahami bahwa harta kekayaan itu adalah milik individu; sementara sosialisme memahami sebaliknya yang mana harta kekayaan adalah kepunyaan negara. Konsep Islam mengetengahkan bahwa harta kekayaan itu adalah milik Allah; sedangkan manusia diberi ruang untuk mengembangkannya. Bila seseorang menjadi kaya, maka harta itu bukanlah milik pribadi atau individu dan bukan pula milik negara. Akan tetapi di dalam harta itu ada hak individu dan hak masyarakat sekaligus. Akan tetapi ia bukan matematicalmean dibagi dua sama besar antara hak individu dan hak masyarakat.Hanya sebagian kecil ( baca: ada yang 2, 5 %, ada yang 10% dan ada pulayang 5 % ) sesuai ketentuan Allah sebagai tetuang dalam Alqur’an. Makanya zakat, infak dan shadaqah yang wajib dikeluarkan untuk orang-orang berhak menerimanya yang lazim disebut dengan ashnaf 8. ( baca: QS, 9: 60 ) dan في اموالهم حقللساءلوالمحرومو ( QS, 51  :  18   ). Jadi, melihat konsep Islam ini bahwa sesungguhnya ajaran Islam tidak menghendaki orang menjadi miskin. Islam sudah mengkonsepkankeadilan sosial yang merata bagi seluruh rakyat, jauh mendahului konsep Pancasila lahir bagi bangsa Indonesia.Islam memerintahkan banyak memberi atau berbagi sesamadan menghindari pamer kekayaan (كلا سوف تعلمونالهاكم  التكاثر حتي ذرتم المقابر ( QS,  102   : 1-3) ويل لكل همزة لمزة الذي جمعمالا وعددده، يحسب ان ما له اخلده...... ( QS, 104     :  1-3 ) ;  dalam artijangan hanya banyak menumpuk kekayaan tanpa mengeluarkan zakat, infak dan shadaqah untuk kemashlahatan umum dan mendermakannya ke ashnaf 8 agar kemiskinan itu mereda; bila dilakukan secara produktif. Sebab kemiskinan yang berlarut-larut sangat mungkin melahirkan kekufuran baru: كاد الفقر ان يكون كفرا  Untuk itu – dalam hal menangani kemiskinan dan mendahulukan keashlahatan – Islam memintadengan tegas memberi dalam arti membagi-bagi kekayaan ( ÷ )lebih diutamakan dari memburu kekayaan (×) kalau hanya mengayakan diri sendiri dan corporat atau kloni-kloni saja. Sebab, bila terjadi hal yang terakhir berarti umat Islam tidak mengindahkan teguran Allah dalam surat al-Ma’un:ارءيت الذي يكذب بالدين فذالك الذي يدع اليتيم ولا يهد علي طعام المسكين...   di ayat lain disebut “ janganlah harta kekayaan berputar di sekitar konglomerat saja”..كي لا يكون دولة  بين الاغنياء منكم.,  ...(QS,    59: 8) V Dalam hidup bermasyarakat yang sesungguhnya, Islam mendorong umatnya untuk kaya, karena orang  kayalah yang bisa“memberi”, karena ia sukses “mengali” = التكاثر danوعددهجمع Namun setelah kaya, jangan lupa memahaminya  bahwa harta itu milik Allah yang “dipinjamoleh manusia” yang pemanfa’atannya adalahuntuk kemanusiaan. Makanya memberi lebih baik dari mrnerima. Dalam istilah sederhana sebagai adagium bahwa membagi atau berbagi (:) lebih dianjurkan dari mengali ( x ) terus-menerus. Sedikit mangali (×);  yang lebih utama adalah berbagi (÷ ). Ketika hal ini terimplentasi di tengah masyarakat, baru umat ini merasa berislamyang baik dan pada sa’at yang sama tercapailah happyending dalam beragama dan bermasyarakat. Allahu a’lam

Editor: Red- Indonesiadaily

Terkini

Kewajiban Untuk Fakir Miskin

Senin, 2 Agustus 2021 | 09:03 WIB

BARANG BAWAAN

Rabu, 7 Juli 2021 | 09:14 WIB

PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA RUNYAM

Rabu, 7 Juli 2021 | 08:58 WIB

KPK BAGAIKAN  “SI BUNGSU YANG MENGGANGGU“

Sabtu, 22 Mei 2021 | 09:46 WIB

MUDIK VIRTUAL: Menjaga Nilai-Nilai Silaturrahim

Jumat, 30 April 2021 | 09:25 WIB

DEMOKRASI INDONESIA, LAGI-LAGI DIUJI

Minggu, 25 April 2021 | 08:43 WIB

Meneropong Perkembangan Demokrasi di Indonesia

Selasa, 20 April 2021 | 17:30 WIB

Kampoeng Radja Dibuka Kembali

Kamis, 1 April 2021 | 09:40 WIB

Jiwa Ksatria Benarkah Dimiliki Calon Pemimpin

Senin, 29 Maret 2021 | 14:39 WIB
X