• Jumat, 9 Desember 2022

Ada Apa Di Balik Ibadah, Politik. Adakah Ibadah Politik ?

- Selasa, 18 Mei 2021 | 08:27 WIB

Oleh Prof. Adrians Chaththab

I. Apa yang seharus (dassollen) bahwa  ibadah adalah hubungan vertikal antara hamba/manusia dengan Tuhan yang agama mengistilahhkannya dengan hablun minnallah; makanya sangat sepesifik, privasidan amalan hati yang tidak dapat diintervensi oleh pihak lain. Sementara yang dilakukan  secara empirik dan kenyataaan ( dassein), biasanya diwujudkan dalsm bentuk horizontal atau dalam bahasa agama disebut hablun minannas). Perkembangan akhir-akhir ini menunjukkan gejala baru. Domain agama dimasuki domain politik. Misalnyahaji bermuata9n politik, lebaran bernada politik, lebih unik lagibahwa takbiran bernuansa politik. Apa yang tetsrbut tersebut terakhir menjurus ke demokrasi atau moderasiatsu juga toleransi atau dalam mendayung biduk ke hilir yakni penyatuan agama-agama dengan asumsi semua agama sama. Mungkin itu muara dan terminal akhirnya.  Secara lahiriyah kelihatan tidak apa-apa;  akan tetapi bila dirunut ke akar atau hulunys yang keruh, jangan diharap hilirnya akan jernih. Apa sesungguhnya yang terjadi  dalam penglolaan anak bangsa dalam kaitannya dengan nadionaiisme agamais dan agamwan yang nasionalistis. Agak kenyataan-kenyataan seperti diterpongdengan lensa miskroskop secara dekat; dan membahasnya lebih jauh, agar anak bangsa ini tidak gagal paham. Uraian betikut ini akan menjawabnya. II. Memang dan diakui bahwa agama punya wilayah sendiri; begitu juga apa yang disinyalir kemanusiaan ada domain sendiri pula. Kadang kala keduanya berdiri di atas tiangnya sendiri-sendiri; akan tetapi pada satu ketika keduanya dapat bertemu di ruang publik. Keduanya dapat menyatu tanpa merusak sendi masing-masing; bisà keduanya “ selapik seketiduran” dan bisa juga “ sama-sama tidur dengan ranjang yang berbeda”. Jadi jarak antara keduanya diatur oleh konstitusi negara; yang agama diatur oleh konstitusi Allah dan Nabi, begitu juga hal yang sama ada pada agama selain Islam dapat menyesuaikan. Yang kedua dalam kaitan berbangsa dan bernegara juga ada tsta aturan konstitusionalnya yakni Undang Dasar 1945 dengan segala turunannya. Dalam ibadah, shalat adalah hak prerogatif seseorang yang didahuli dengan seruan atau pengumuman langsung dari Allah melalui lidah si mu’adzin yang disenutadzan. Dulu, adzan dilantunkan dengan suara lantang di atas menara  oleh Bilal ibnRabbah. Nah, sekarang karena teknologi sudah canggih disuarakan pakai microfon. Lalu, kstena keasyikan, suara lantang dengan mikrofon itu dapat mengganggu tetangga yang tidak seiman. Maka, di sinilah masalahnya; shalat yang wajib ‘ain tidak bisa dibantah; akan tetapiadzan  yang keras menyayat kalbu non muslim perlu di jaga; bukan suaranya bisik-bisik saja, akan dilantunksn dengan volume sederhana. Di dinilah letaknya toletansi dalam beragama.Lain halnya dengan membolehkan  umat Islam, satu kali shalatdi mesjid dan kali yang di kuil stau pura. Atau sebaliknya, umat Hindu sembajyangdi kuil dan kali yang lain sembahyangnya di mesjid atau di gereja. Yang mofelbegini tidak dapat dikatakan moderasi ataudemokrasi , apalagi toleransi. Gaya seperti ini nama mengarah pada pemahaman bahwa semua  agama sama dan dapat dilaksanakan dimana saja. Kalau ada fatwa  yang demikian -  mungkin – mereka merujuk pada masa-masa Islam awaldan kenyataan mesjid Ayasofia yang dulunya adalah  gereja. Untuk kodisi sekarang, hal itu tidak boleh dilakukan. Dalam kajian hukum Islam disebut: الضرورة تبيح المحذورة      / darurat   dapatmrmbolehkan sesuatu yang dilarang.Kondisi seperti di atas disebut juga kondisi tidak normal.Daam kondisi perang yang tidak tempat shalat selain itu, maka darurat dapat menyalahi hukum asalnya. Hal itu kondisional sekali, tidak berlalu untuk selamanya. Còntoh lain adalah memakan obat yang zatnya haram, karena itulah  satu-satu obat, maka dibolehkan.       Lalu, bagaimana dengan seorang muslim atau secara berjama’ah ikut bernyanyi ketika lebaran Natal?. Bernyanyi pada lebaran Natal bagi umat Nasrani adalah ibadah, maka orang Islam tidak boleh mengikuti acara itu. Sesuai dengan teguran Allah dalam Durat al’-Kafirun:  قل يا ايها الكافرونلا اعبد ما تعبدون ولا انتم عابدون ما العبد  ، لكم دينكم ولا دين. " saya tidak akan menyembah Tuhsnmu; sebaliknya kamu juga tidak akan.menyrembah Tuha saya, bagimu agamudan.bagi saya agama saya”. Bila ikut juga, itu namanya : من تشبه بقوم فهو منهم   barangsiapa yang memyerupai ( ikut-ikutan) , maka afalahbahagian dari mereka itu. III. Lalu , bagaimana dengan non muslim ikut merayakan idillFitridan  hari lainnya?  Lebih dulu harus dipisahkan mana yang ibadah dan mana yang ukhuwah basyariyah ( humanitas ) . Kemanusiaannya terletak padamengcucapkan selamat Idil Fitri  dan mohon ma’af lahir dan bathin,; hanya sebatas itu. Bila ikut takbiran, yang hal itu adalah wilayah teologis dan ibadah yang khusus untuk muslim saja. Oleh sebab itu, melantunksn kalimat takbir’ tahmid dan tahlil merupakan  kesalahan bagi non muslim. Takbir artinya mengagungkan Allah; tahmid artimya memuji Allah; tahlil mengesakan Allah seesanya yang tuhan selain Dia.Aktifitasekspresi panggilan keimanan  kepada Allah dan Nabi Muhammad utusannya yang tidak sama umat Nasrani yang meyakini Tuhan mereka Isa al-Maseh.; bukan Allah. Sekaligus Isa sebagai anak Tuhan yang hal itubparadoks dengan keyakinan Umat Islam sebagai tertera pada surat al-ikhlash: قل هو الله احد ، الله الصمد، لم يلد ولم يولد، ولم يكن له كفوا  احدdan apa yang tertrapafa ayat Kursy: الهكم اله واحد... Bila hal ini terjadi,  maka secara teologis akan terjadi pencampur-adukan  yang bersebrangsn. Muaranya nsnti akan berkesimpulan semua agama sama dan pada ujung bisa melahirkan paham atheis. Jadi, toleransi ada bukan tanpa batas. Kalau kebablasan bisa jadi tidak beragama yang diyakini seseorang lagi. IV. Bila dipaksakan “ saling mengikuti” antara penganut satu agama dengan penganut agama lain, maka buah yang diharapkan bukanmoderasi, dan juga bukan toleransi; akan tetapi hal itiafalah demokrasi yang teselubung. Kemungkinan besar ada muatan politiknya yang bersemi yang suatu sa’at akan meledak bagaikan api dalam sekam. Lama membakarnya; tapi pasti.Justerumenyampur-!adukan hal-hal teologis dengan politik akan adagium beribafah sambil berpolitik dan betpolitik dengan ibadah.Kalaumengcapkan syahadatain, siapa saja bisa, sebatad di lidah. Bagi umat Islam adalah diucapkan  dengan lidah dicamkan dengan hati dilaknakanoleh anggota tubuh. Bila, iman sebatas lidah; maka lidah tidak bertulang. Hari beriman besok tidaklagi. Apabila ketiga komponen iru tidak menyatu dalam satu ucapan dan tindakan, maka ibadah politiktidaktettutup kemungkinan adanya, baik individual maupun secara kolektif. V. Beribadah di bekang politik bisa saja, karena yang dapat diukur adalah aktivitas politik seseorang; sedangkan aktivitas keberimananĺsesorang hanya Tuhanlah yang tahu dan diri pelakubk sendiri. Namun, perlu diingat bahwa sepandai-pandai menipu hanyalahmenipu diri sendiri dan menipu orang lain; sementara manusia tak akan pernah dapat menipu Yang Maha Kuasa tipuannya yakni Allah: يخادعون الله وما يخدعون الا  انفسهم ولكن لا بشعرونr  “Mreka menipu Alllah; tidak mungkin, kecuali menipu diri sendi; namun mereka tidak sadar” dan di ayat lain :   ومكروا ومكرالله والله خير الماكرينMereka menipu, tidak mungkin, Allahlah yang hebattipuanNya. Jadi, beribadah di belakamg politik; dilihat dari kacamata politik, pasti ada. Adapun dilihatmelalui kacamata agama, ibadah politik itu tidak ada, karena bila itu dilakukan berarti menipu Tuhan. Menipu Tuhan berarti menipu diri sendiri. Allahu a’lam.

Editor: Red- Indonesiadaily

Terkini

Kewajiban Untuk Fakir Miskin

Senin, 2 Agustus 2021 | 09:03 WIB

BARANG BAWAAN

Rabu, 7 Juli 2021 | 09:14 WIB

PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA RUNYAM

Rabu, 7 Juli 2021 | 08:58 WIB

KPK BAGAIKAN  “SI BUNGSU YANG MENGGANGGU“

Sabtu, 22 Mei 2021 | 09:46 WIB

MUDIK VIRTUAL: Menjaga Nilai-Nilai Silaturrahim

Jumat, 30 April 2021 | 09:25 WIB

DEMOKRASI INDONESIA, LAGI-LAGI DIUJI

Minggu, 25 April 2021 | 08:43 WIB

Meneropong Perkembangan Demokrasi di Indonesia

Selasa, 20 April 2021 | 17:30 WIB

Kampoeng Radja Dibuka Kembali

Kamis, 1 April 2021 | 09:40 WIB

Jiwa Ksatria Benarkah Dimiliki Calon Pemimpin

Senin, 29 Maret 2021 | 14:39 WIB
X