• Jumat, 9 Desember 2022

KPK BAGAIKAN  “SI BUNGSU YANG MENGGANGGU“

- Sabtu, 22 Mei 2021 | 09:46 WIB

Oleh: Adrians Chaththab

I Semenjakkelahirannya,  “si Bungsu KPK” tak pernah sepi dari sorotan dan pergunjingan, baik suara positif maupun nada negatif yang satu pihak menilainya sebagai penguatan institusi anti risywah itu; namun pihak sebelah menilainya sebagai pelemahan yang testruktur. Jadinya, KPK bagaikan “kue bika” yang atasdan bawah dibakar oleh api tanpa henti. Sesuai dengan tupoksinya, sudah banyak yang dibui atau disanrika di Lembaga Pemasyarakatan  karena terbukti secara sah menilap dan telah menyelewengkan duit negara baik individual maupun secara berjama”ah. Efeknya lahir 2 kubu nitizen : 1) memuji keberhasilan KPK; 2) groupyamg mencibir karena operasinya menjadi semakin sempit dan peluang untuk korup semakin payah dan tetutuppintunya – mungkin – terbuka pintu lain. Bukan tuduhan kata nitizen; nyatanya perampas uang negara masih banyak yang “ bersebunyi di balik tirai kekuasaan atau pandai “berminyak air”.Kelompok kedua inilah yang tak hentinya berpikir siang malam bagaimana KPK  secepatnyamenemui ajalnya supaya wilayah operasinya “ mrnjanjikan” lagi. Akhir-akhir ini dalam suasana demikian berakhir kepemimpinan KPK lama yang mautak.mau, harus diganti denganpemimpin baru yang masyarakat berharap sangat agar tajinya lebih tajam lagi, karena dengan Ketua Baru tentulah diikuti dengan gaya baru yang bisa mematikan tipu licik calon koruptor. Begitu juga masyarakat berharap besar bahwa suntikan darah segar yang mrmeberi semangat baru yang dalam otaknya sudah tergambar foto-foto  calon narapidana yang akan dibidiknya. Aneh bin ajaib dugaan masyarakat dan penggiat anti korupsi agak sedikit meleset. Belum dapat menangkap mangsanya;  pegawai dan pelaksana di lapangan yang selama ini dipandang kredibel, suasana berubah dengan terjadinya  testing ulang “retestsecondbydisign” yang diharapkan menambah powerment lembaga “kesayangan rakyat” ini, ternyata hasilnya  menonaktifkan  pemburu koruptor itu yang tidak tanggung-tanggung pula jumlahnya yakni 75 personal berpengalaman. Memang ada yang besuara bahwa non aktif, bukan berarti  berehenti. Inilah bahasa yang dipoles sehingga diharapkan tidak membuat gaduh masyarakat yang pengetahusn bahasa dan kukum mereka tidak bodoh-bodoh amat. Pertanyaan sederhana mereka sulit menjawabnya: bagaimana caranya kasus-kasus besar yang sedang  diselidik dan disidik terus diburu, sementara pemburunya non aktif alias tidak boleh melakukan tugas. Apakah yang baru diangkat tahu permasalahan atau mulai dari nol lagi meminjam istillah petugas pom bensin. Ada juga yang berkomentar bahwa tanpa 75 orang itu, KPK akan kiamat. Berdadarkan logika sederhana saja bagi orang berkecimpung di ASN senior akan mengatakan bahwa menyerahkan urusan mendidik ke guru baru atau dosen baru diangkat sulit; paling tifak memerlukan waktu,  tidak “ kunfayakun” sebagaimana ilmu Tuhan. Lalu pertanyaan rakyat berikutnya adalah kok  sekarang waktunya di sa’atpengangkatan pegawai negeri belum ada dari pihak Pemerintah.Memang sulit menjawab; kecuali teka-teki yang dipandang lucu; tapi nyatanya tidak lucu; tidak ekstra ordinary. Lembaga anti risywah itu menjadi geger dan mata masyarakat membelalak melihatnya dengan segudang pertanyaan di hati masing-masing: “ whathappnedandwhatproblemedorwhatthenextaction? “, menarik dan perlu; ada pada uraian berikut ini. II Dalam kaitan dengan judul di atas, tahun 2010 penulis semakin tegas kesimpulan dan kebenarannya apa yang tergores di otak plato dan ia menginformasikan kepada murid-muridnya bahwa manusia itu zoonpoliticon. Pemikiran jeniusPlato, tambah direnungkan menjadikan otak kita terusik. Kenapa? Ungkapan singkat dan padat itu, bila dihadapkan denganpersiteruan antara Polri, Kejaksaan Agung, Pengadilan  dan KPK yang diperuncing tajam dan menyayat oleh pencundang hukum (blacklawyer) di negeri ini, tidak terbantahkan lagi. Zoonpoliticonsecara etimologi berarti manusia adalah “binatang” yang salingberkepentingan. Karena kepentingan baik secara individual maupun secarainstitusional manusia dapat saling membantu dan pada giliran yang lain dapat pula saling mengalahkan. Kenyataan seperti inilah, agaknya yang membuat Ibnu Taimiyyah, pemikir politik Islam, melegitimasi ucapan Plato sebagai kelanjutan dari sepak terjang manusia seperti zoonpoliticon, agar tersalurkan dengan baik memerlukan institusi yang disebut pemerintahan. Karena katanya, sepanjang manusia bisa hidup berkeadilan dan berdampingan dengan damai, maka tidak perlu ada pemerintahan. Justru ternyata, manusia itu sarat kepentingan, sulit diatur dan tidak jarang melanggar hukum, maka pemerintahan yang tegas merupakan kemutlakan. Dikatakan demikian, sebab pemerintahan yang baik tidak lepas dari unsur. 1) institusi/lembaga penegak aturan; 2) manusia/sumber daya penegak hukum; 3) aturan-aturan/perundang-undangan hukum yang tegas dan lugas (jangan terlalu banyak pasal karet). Ketiga hal itu adalah three in one; tidak bisa dipisahkan, hanya dapat dibedakan. Artinya, ketiga unsur tersebut harus bersenergi. Institusi penegak hukum di negeri kita yang lahir berdasarkan UU adalahkepolisian,kejaksaan dan pengadilan. Tiga institusi ini lahir dari rahim ibu pertiwi. Bagaikan anak, bahwa 3 institusi tersebut di atas telah dibesarkan dan dididik di bawah pangkuan ibu pertiwi  sejak mereka lahir sampai dengan dewasa. Namun demikian, apaka  - mungkin - salah didik  ( malleducation ) atausebab lainyang jelas tiga anak ( kepolisisn, kejaksaan dan pengadilan tidak tumbuh dewasa bagai anak ysngsangst diidamkan kelahirannya bagi ibu dsn bapaknya. Bagaikan anak, tiga institusi ini telah dibesarkan dan dididik oleh ibu pertiwi sejak ia lahir sampai dengan dewasa. Namun demikian, apakah disebabkan salah didik, atau faktor lingkungan yang dipandang budaya padahal yang sebenarnya tidak dan lain sebagainya, tiga anak (kepolisian, kejaksaan, pengadilan) tidak tumbuh dan berkembang dewasa sebagaimana diharapkan ibu-bapaknya. Entah lantaran apa, 3 (tiga) anak harapan masa depan ibu/bapaknya (baca; ibu pertiwi) menjadi “anak nakal”. Tidak sekedar nakal, tapi mereka sedang menjadi “extraordinarynakal”, sehingga dambaan ibu/bapak menjadi pupus sudah. Patah hati sang ibu/bapak mendidik anaknya, karena apapun bentuk sanksi dan upaya meluruskannya yang diberikan, tetap diabaikan sang anak. Akhirnya, ibu/bapak ingat do’a Nabi Zakaria (baca: tidak persis sama), bagaimana agar keduanya dikaruniai anak lagi yang bisa membantu dia mengurus negara dan diharapkan anak yang lahir itu nanti bukan anak yang nakal. Do’a sang ibu/bapak terkabul. Ibunya hamil. Tapi apa yang terjadi, kehamilan ibu sangat tidak dikehendaki oleh 3 bersaudara yang sudah duluan lahir. Apa boleh buat, sang ibu sudah terlanjur hamil. Berbagai upaya dilakukan sang anak agar ibunya menggugurkan kandungannya dengan alasan: “masak kami punya adik lagi, sementara ibu sudah tua”. Jawab ibu: “memang kami sudah tua”, tapi kamu sekalian ternyata tidak dapat diharapkan yang kami betul-betul mengharapkannya untuk menjalankan tugas kepemerintahan dengan baik bila kelak kami telah tiada maupun disaat kami sudah tua renta seperti sekarang ini. Akhirnya, lahirlah bayi mungil yang sangat didambakan oleh kedua orang ibu/bapaknya. Pendek cerita, sejak kecil sampai dengan akan memasuki usia dewasa, silih berganti cobaan ditimpakan oleh kakak-kakaknya kepada si bungsu ini. Tidak tanggung-tanggung cobaan itu, mulai dari tuduhan bahwa adiknya adalah “anak haram” sampai pada tuduhan bahwa ia telah mencuri  barang orang dan menilep titipan orang yang dipercayakan kepadanya. Kisah ini mirip dengan sejarah Nabi Yusuf bin Daud dengan 11 orang saudaranya yang tidak menginginkan kehadiran Nabi Yusuf ditengah-tengah mereka; sekalipun kita tahu dan semua orang tahh bahwa Nabi Yusuf lah yang meluruskan ketatanegaraan/pemerintahan di negerinya yang sudah carut-marut yang oleh tangan dingin dan ketegasan Yusuf dalam menegakkan hukum, negerinya menjadi makmur dan berwibawa. Seharusnya tidak boleh terjadi tapi nyatanya demikian karena sang ibu/bapak sibuk dengan urusannya, tidak sempat mendidik anak dengan baik (baca: saudara-saudara Yusuf), maka ketika terjadi tuduhan bahwa anak bungsunya menggelapkan barang orang, ia minta pula orang lain untuk meneliti apakah benar si bungsu maling atau hanya sekedar karangan bohong kakak-kakaknya saja. Anehnya pula pernyataan kakak-kakaknya yang menyudutkan si bungsu didukung pula oleh warga dan tetangga yang punya kepentingan khusus dalam mencari keuntungan ketika air keruh. Dari hari ke hari ada saja yang mempersoalkannya yang bermuara pada ketidak-relaan mereka pada si bungsu untuk lahir. Kisahnya belum selesai sampai disini, akan tetapi yang sudah jelas dan pasti disimpulkan adalah bahwa: 1) pada perseteruan antara kakak beradik ada orang yang bersorak-sorai bergembira ria di luar rumah yang ingin betul agar keluarga ini berantakan dan hancur secepatnya. Dengan hancurnya keluarga tersebut, maka hidup “tanpa aturan” yang diinginkan mereka akan “berubah manis lagi”; 2)persiteruan ini merupakan jalan yang dibukakan oleh Allah agar penegakan hukum dan pembenahan peradilam di negeri ini secepatnya ditangani dengan serius. Untuk itu, wahai orang yang punya otak dan hati, yang sesuai kata dan perbuatan, yang jangan ada dusta diantara kita berfikirlah secara cerdas, cermat dan akurat. Benarkah KPK bagaikan anak yang tak diinginkan untuk lahir?  Atau si bungsu yang mengaggu? Kita tunggu perkembangan selanjutnya.Allahu a’lambial-shawab.

Editor: Red- Indonesiadaily

Terkini

Kewajiban Untuk Fakir Miskin

Senin, 2 Agustus 2021 | 09:03 WIB

BARANG BAWAAN

Rabu, 7 Juli 2021 | 09:14 WIB

PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA RUNYAM

Rabu, 7 Juli 2021 | 08:58 WIB

KPK BAGAIKAN  “SI BUNGSU YANG MENGGANGGU“

Sabtu, 22 Mei 2021 | 09:46 WIB

MUDIK VIRTUAL: Menjaga Nilai-Nilai Silaturrahim

Jumat, 30 April 2021 | 09:25 WIB

DEMOKRASI INDONESIA, LAGI-LAGI DIUJI

Minggu, 25 April 2021 | 08:43 WIB

Meneropong Perkembangan Demokrasi di Indonesia

Selasa, 20 April 2021 | 17:30 WIB

Kampoeng Radja Dibuka Kembali

Kamis, 1 April 2021 | 09:40 WIB

Jiwa Ksatria Benarkah Dimiliki Calon Pemimpin

Senin, 29 Maret 2021 | 14:39 WIB
X