• Jumat, 9 Desember 2022

Healing Forest ditengah Pandemi Covid-19 dan Potensinya di Tanah Kerinci

- Rabu, 7 Juli 2021 | 14:53 WIB

Oleh : Doki Wardiman

Healing Forest/ Forest Bathing atau dalam bahasa Indonesia kita sebut dengan penyembuhan hutan atau terapi dengan media ekosistem hutan. Terapi ini dikenalkan oleh Qing Li di Tokyo dalam bukunya Shinrin-Yoku : The Art and Science of Forest Bathing yang terbit pada tahun 2018 lalu. Menurutnya berjalan dibawah hutan dan menjumpai kehijauan alam adalah faktor penting dalam memerangi penyakir di tubuh dan pikiran. Argumen ini di kuatkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Matther P. White (Journal Scientific Report Volume 9 tahun 2019) bahwa tegakkan pohon, ekosistem hutan dan alam terbuka bisa memulihkan kesehatan fisik dan mental. Selain itu daya tahan tubuh terhadap serangan virus naik setelah berjalan di alam terbuka selama 120 hingga 300 menit. Secara khusus dalam penelitian Jaeyoon Hong (Journal Urban Forestry & Urban Greening volume 59 tahun 2021) menemukan bahwa melalui program – program kegiatan yang memanfaatkan berbagai media alam seperti aroma, pemandangan dan lain – lain dapat meningkatkan kekebalan tubuh manusia dan untuk meningkatkan kesehatan serta healing forest dapat berfungsi sebagai program promosi sosial yang memanfaatkan lingkungan hutan serta merupakan langkah yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan anak-anak di daerah perkotaan. Beberapa penelitian juga menemukan bahwa healing forest digunakan sebagai pengobatan alternatif bagi para pecandu narkoba dan alkohol. Istilah healing forest mulai berkembang dan menjadi trend di dunia ditengah gaya hidup manusia yang mulai menganut konsep “back to nature” dimana mereka meyakini rutinitas yang penuh kesibukan akan meningkatkan stress dan menurunkan imun tubuh. Terapi ini akan terus menjamur apalagi ditengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini. Hingga pandemi ini selesai kegiatan alam ini akan sangat diminati oleh banyak orang mulai dari anak – anak hingga lanjut usia. Sebenarnya kegiatan alam seperti ini (mendaki gunung dan camping di alam bebas) beberapa tahun belakangan sudah mulai berkembang hingga saat ini setelah kembali munculnya sosok Soe Hok Gie dan boomingnya film “5 cm” di Indonesia. Healing forest sebagai jasa ekosistem (Ecosistem Services). Secara ilmiah menurut Sutopo (2011) jasa lingkungan didefiniskan sebagai keseluruhan konsep sistem alami yang menyediakan aliran barang dan jasa yang bermanfaat bagi manusia dan lingkungan yang dihasilkan oleh proses alami. Suatu ekosistem menyediakan suatu jasa lingkungan yang memiliki empat fungsi/jasa, yaitu : jasa penyediaan (provising services), jasa pengaturan (regulating services), jasa kultural (cultural services), dan jasa pendukung (supporting services). Kegiatan healing forest yang menggunakan ekosistem hutan secara umum termasuk kedalam bentuk ekowisata. Konsep ekowisata dalam pengelolaannya mengedepankan unsur pendidikan, pemahaman, dan dukungan terhadap usaha – usaha konservasi sumberdaya alam, serta peningkatan pendapatan masyarakat lokal. Sehingga dengan kegiatan healing forest merupakan bentuk pemanfaatan manusia terhadap jasa lingkungan. Semakin diminati kegiatan healing forest maka akan semakin banyak kita butuh ekosistem hutan untuk dikunjungi, sehingga kegiatan ini merupakan bentuk konservasi hutan di Kerinci. Tentu saja hal ini akan sangat bermanfaat bagi keberlanjutan lingkungan hidup. Konsep ekowisata dalam manajemen ekosistem hutan dirasa tepat dalam pengelolaan kawasan hutan dimana masyarakat sebagai pribumi dapat mengelola dan menjaga dan mendapatkan penghasilan dari keberadaan ekosistem hutan tersebut. Bagaimana potensi ekosistem hutan sebagai media healing forest di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh ? Sekitar 70% luasan bentangan alam Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh merupakan kawasan hutan baik hutan suaka alam, hutan lindung maupun hutan produksi. Tentu saja hal ini bagus menjadi modal dasar utama dalam pengembangan ekowisata khususnya media healing forest. Sebenarnya bentuk ekowisata di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh sudah terlihat dari keberadaan “Bukit Tirai Embun” di Kayu Aro, “Taman Pertiwi” di Pendung Talang Genting, “Depati Coffee” di jalur lintas Sungai Penuh – Tapan dan beberapa tempat rekreasi alam lainnya. Namun hal ini perlu dikembangkan lagi dengan pengelolaan oleh BUMDES (Badan Usaha Milik Desa), pasalnya keberadaan BUMDES dengan sistem yang baik akan membuka lapangan kerja dan mengurangi pengangguran di wilayah tersebut. Konsep lain dalam pengembangan ekowisata di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh adalah dengan pemanfaatan lahan perkebunan kopi dan kulit manis. Seperti halnya lahan yang sangat potensial yang berada di daerah Salimpaung, Lempur, Renah Pemetik dan beberapa daerah perkebunan lainnya. Sistem agroforestry yang baik akan menghasilkan lingkungan yang baik pula. Wisatawan akan menikmati rindangnya tanaman kulit manis yang berada di antara tanaman kopi. Mereka akan merasakan ikut serta bagaimana memetik buah kopi, merasakan lingkungan yang asri sehingga mendapatkan healing forest. Untuk itu, Penting bagi pemangku kebijakan melihat potensi ini untuk diterapkan di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh. Mengangkat negeri Kerinci sebagai tujuan wisata populer di Indoneisa maupun mancanegara.

Editor: Ady Praja

Terkini

Kewajiban Untuk Fakir Miskin

Senin, 2 Agustus 2021 | 09:03 WIB

BARANG BAWAAN

Rabu, 7 Juli 2021 | 09:14 WIB

PENEGAKAN HUKUM DI INDONESIA RUNYAM

Rabu, 7 Juli 2021 | 08:58 WIB

KPK BAGAIKAN  “SI BUNGSU YANG MENGGANGGU“

Sabtu, 22 Mei 2021 | 09:46 WIB

MUDIK VIRTUAL: Menjaga Nilai-Nilai Silaturrahim

Jumat, 30 April 2021 | 09:25 WIB

DEMOKRASI INDONESIA, LAGI-LAGI DIUJI

Minggu, 25 April 2021 | 08:43 WIB

Meneropong Perkembangan Demokrasi di Indonesia

Selasa, 20 April 2021 | 17:30 WIB

Kampoeng Radja Dibuka Kembali

Kamis, 1 April 2021 | 09:40 WIB

Jiwa Ksatria Benarkah Dimiliki Calon Pemimpin

Senin, 29 Maret 2021 | 14:39 WIB
X