• Minggu, 5 Februari 2023

HUT ke-63 Kerinci, Masihkah Menuduhnya sebagai Tanah Surga?

- Rabu, 10 November 2021 | 12:45 WIB

Oleh : Rizkhi Dwi Stiawan (Kader HIMSAK)

Selamat ulang tahun Kabupaten Kerinci, di usia yang ke-63 masih layakkah Kerinci dijuluki "Tanah Surga"? Kabupaten Kerinci diresmikan sebagai daerah otonom sejak 10 November 1958, rentetan perjalanan dalam pembangunannya telah dilalui dengan berbagai tantangan dan persoalan.

Tentu semua pihak berperan dalam pembangunan bumi Kerinci, tetapi yang memiliki peran vital dalam pembangunan adalah pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah.

Warga kerinci bahkan daerah lain sering menjuluki Kerinci sebagai Tanah Surga, dimana tersimpan banyak sekali potensi alam dan juga peradaban didalamnya. Hanya saja belum ada langkah serius untuk menindaklanjuti hal tersebut. Masih berkecimpung dalam wacana yang terkesan tidak memiliki konsep yang jelas dan masih mengambang.

Belum lagi ketimpangan pembangunan infrastruktur, masuknya perusahaan yang mengancam kelestarian lingkungan jangka pendek, menengah, maupun panjang, masyarakat adat juga terseret dalam kepentingan itu. Kembali lagi kita ke pokok pembahasan, masih pantaskah kita menuduh kerinci adalah “Tanah Surga" ?

Untuk membantah hal tersebut tentunya sangat tidak mungkin, karena tidak bisa dipungkiri lagi bahwa kerinci memang layak dijuluki Sekepal Tanah Surga, alamnya yang hijau, sejuk, dengan pemandangan perbukitan yang mengelilingi pemukiman warga, dihiasi Gunung Kerinci yang merupakan gunung api tertinggi di Indonesia, Danau Gunung Tujuh yang juga danau kaldera tertinggi Asia Tenggara, dan juga banyak sekali potensi alam dan wisata yang tidak disebutkan dalam tulisan ini.

Sangat disayangkan keberadaan alam yang indah beserta penghuninya terancam dalam beberapa waktu ke depan. Akhir-akhir ini sudah banyak sekali pemberitaan tentang perusakan lingkungan hidup di Kabupaten Kerinci maupun Kota Sungai Penuh.

Seperti Illegal Logging atau penebangan hutan secara liar, Pembakaran lahan, galian C illegal, pencemaran sungai, pengolahan sampah yang amburadul dan masih banyak yang lainnya. Jika pembaca menanyakan referensi penulis tentang kasus-kasus tersebut, langsung cek saja di media online masing-masing kita. Akibat daripada ulah manusia tadi berpotensi menimbulkan bencana, berikut penulis akan ulas satu per satu.

Illegal Logging (Penebangan hutan secara liar)

Halaman:

Editor: Ady Praja

Tags

Terkini

Setelah Kompeten, Apa? , Catatan Hendry Ch Bangun

Senin, 23 Januari 2023 | 09:27 WIB

Jokowi, Hariman dan Malari

Senin, 16 Januari 2023 | 09:38 WIB

Harian Waspada Itu Heritage Bagi Indonesia

Kamis, 12 Januari 2023 | 10:45 WIB

Wartawan Bergelar Doktor, Catatan Hendry CH Bangun

Minggu, 8 Januari 2023 | 08:10 WIB

Dibuang di UU Pers, Dipunggut  ke dalam KUHP

Sabtu, 31 Desember 2022 | 07:51 WIB

"Reformasi Sistem Pengelolaan Sampah Kota Sungai Penuh"

Selasa, 13 September 2022 | 22:26 WIB

Tamatan Luar Negeri Lebih Hebat?

Jumat, 29 April 2022 | 18:58 WIB

Mahligai 9 dan Kepemimpinan Progresif El Halcon

Selasa, 25 Januari 2022 | 16:58 WIB
X