• Senin, 5 Desember 2022

Begini Proses Elang Jawa/Sang Garuda Berkembangbiak

- Minggu, 18 April 2021 | 19:03 WIB

Jakarta – indonesiadaily.co.id Pada awal April 2021, telah lahir Sang Penerus Penguasa Tahta Langit, yaitu seekor anak elang Jawa (Nisaetus bartelsi) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, Sukabumi. Garuda Kecil/ Muda yang baru lahir itu diberi nama “PRAWARA” yang dalam bahasa Sansekerta berarti Paling Terkemuka. Elang Jawa merupakan salah satu dari 3 (tiga) spesies kunci di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan sebagai satwa endemik Pulau Jawa. IUCN mengkategorikan Elang Jawa sebagai jenis satwa terancam punah dan Pemerintah Indonesia menetapkan Elang Jawa sebagai jenis satwa dilindungi. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) mendokumentasikan kelahiran anak elang jawa (Nisaetus Bartelsi) bernama Prawara, yang artinya paling terkemuka dalam bahasa Sansekerta. Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) Balai TNGHS Wardi Septiana menjelaskan tim monitoring secara khusus dan rutin memantau seluruh aktivitas pasangan Elang Jawa sejak Desember 2020, mulai dari penataan sarang, pengeraman telur, sampai menetas pada awal April lalu dengan kamera closed circuit television (CCTV). "Kami menggunakan teknologi dan memasang kamera CCTV di dekat sarangnya. Selain itu, kami juga mengkoneksikan ke jaringan internet segala aktivitas Pasangan Elang Jawa selama proses perkembangbiakannya dapat secara online termonitor di Android," jelas PEH Balai TNGHS. https://www.youtube.com/watch?v=iIlCmEf87DA Lebih lanjut PEH Balai TNGHS menjelaskan Elang Jawa merupakan salah satu dar itiga spesies kunci di TNGHS dan juga satwa endemik Pulau Jawa. International Union Conservation of Nature (IUCN), lembagakonservasi alam Perserikatan Bangsa-Bangsa ((PBB), telah mengkategorikan Elang Jawa sebagai jenis satwa terancam punah dan Pemerintah Indonesia menetapkan Elang Jawa sebagai jenis satwa dilindungi. “Elang Jawa hanya mengalami satu kali masa berkembangbiak dalam dua tahun itupun jumlah telurnya hanya satu butir sehingga secara alami memiliki populasi yang rendah,” ungkap dia. Menurutnya masa bersarang merupakan masa yang paling penting dalam siklus hidup burung pemangsa tersebut untuk keberlanjutan keberadaannya. Oleh karena itu, kata dia, tim TNGHS berupaya semaksimal mungkin melindungi pohon sarang Elang Jawa yang aktif untuk meningkatkan tingkat kesuksesan perkembangbiakan (breeding success). “Dibutuhkan peran serta dan partisipasi dari masyarakat untuk mengawal dan menjaga sampai Prawara dewasa, dan kelestarian keanekaragaman hayati di TNGHS,” kata dia

Editor: Red- Indonesiadaily

Tags

Terkini

SMSI Gagas Eksepedisi Geopark Kaldera Toba HPN 2023

Jumat, 14 Oktober 2022 | 08:40 WIB

Jelajah Arsitektur Unik Masjid Tuo Kayu Jao

Selasa, 3 Mei 2022 | 07:24 WIB

Ulu Kasok Tetap Jadi Primadona di Riau

Senin, 21 Februari 2022 | 08:27 WIB

Pesona Pulau Kasiak Kota Pariaman

Selasa, 8 Februari 2022 | 11:27 WIB

Jembatan Sukuk di Ibu Kota Negara Baru

Minggu, 23 Januari 2022 | 10:27 WIB

Melatih Benteng Terdepan Penarik Wisatawan

Jumat, 21 Januari 2022 | 11:05 WIB
X