Jelajah Arsitektur Unik Masjid Tuo Kayu Jao di Solok Sumatera Barat

- Selasa, 3 Mei 2022 | 07:24 WIB

Indonesiadaily.co.id - Masjid Tuo Kayu Jao terletak di perbukitan hijau yang sejuk di ketinggian 1.152 meter di atas permukaan laut. Masjid berdekatan dengan perkebunan teh di sebuah lembah kecil sehingga membuatnya seperti dibentengi perbukitan Masyarakat yang tinggal di Kabupaten Solok, Sumatra Barat, tentu sudah mengenal masjid yang satu ini.

Namanya Masjid Tuo Kayu Jao dan menjadi saksi bisu syiar Islam di Sumatra Barat, khususnya kawasan Solok di mana masjid ini berada. Rumah ibadah umat Islam ini juga menjadi salah satu yang tertua di Nusantara.

Masjid ini ada di Kampung Kayu Jao, Jorong Kayu Jao, Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok. Dari pusat Kota Padang, masjid ini dapat dicapai setelah menempuh perjalanan selama 1,5 jam. Lokasinya di perbukitan hijau yang sejuk di ketinggian 1.152 meter di atas permukaan laut.

Masjid berdekatan dengan perkebunan teh di sebuah lembah kecil sehingga membuat Masjid Tuo Kayu Jao seperti dibentengi perbukitan. Sebuah sungai kecil dengan aliran dari mata air lumayan deras berada di sisi timur hingga melingkar ke selatan masjid.

Baca Juga: Merindukan Lombok Pulau Seribu Mesjid Sejuta Pesona 

Aliran dari mata air jernih dijadikan sumber wudhu bagi jamaah ketika akan menunaikan salat lima waktu. Tempat berwudhunya berada di sisi selatan masjid. Di halaman sisi timur, terdapat beduk atau tabuah dalam bahasa setempat yang telah diberi bangunan cungkup pelindung dengan tiang kayu dan atap ijuk.

Beduk ini sudah ada sejak masjid didirikan. Sedangkan pada arah kiblat masjid terdapat sebuah makam para pendiri masjid.

Sebagaimana publikasi pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumbar di website Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, masjid didirikan oleh dua tokoh ulama di Solok, Angku Masyhur dan Angku Labai pada tahun 1567.

Mereka dibantu oleh masyarakat tiga nagari yaitu Kayu Aro, Kayu Jao, dan Lubuk Selasih. Salah satu keturunan pendiri masjid yaitu Pendri Agusmal Rianto menyebut angka 1419 Masehi sebagai awal pembangunan.

Baca Juga: Pembangunan Mesjid Raya Provinsi Riau Sudah 96 Persen

Angku Masyhur dikenal sebagai imam bersuara merdu ketika melantunkan ayat-ayat suci Alquran dalam bacaan salatnya sehingga banyak dikagumi orang.

Angku Labai kerap bertindak sebagai bilal atau pelantun azan penanda masuknya waktu salat. Seperti halnya Angku Masyhur, suara Angku Labai pun terbilang nyaring dan merdu saat melantunkan azan. Sehingga, orang yang mendengarnya tertarik untuk datang dan melaksanakan ibadah salat bersama di masjid itu.

Bangunan masjid memadukan ciri Islam dengan corak Minangkabau yang sangat kental. Atapnya yang bersusun tiga tingkat melambangkan tiga tungku sajorangan yang dalam budaya Minangkabau merupakan alim ulama, ninik mamak, dan kelompok cerdik pandai.

Pada puncak atap berbentuk limas yang di ujungnya diberi mestaka ini ditutupi anyaman ijuk setebal 15 sentimeter dan disusun pada kerangka bambu. Bentuk atap masjid sedikit cekung, dimaksudkan untuk mempercepat aliran air hujan menuju ke bawah.

Halaman:

Editor: Administrator

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X