• Senin, 28 November 2022

Kisah Sukses "Sang Alantara" Made Dapir : Sinergitas, Integritas dan Kerja Keras

- Minggu, 11 Oktober 2020 | 21:23 WIB

BALI (Indonesiadaily.co.id)-Hingga saat ini, ada ribuan perusahaan yang bermain di sektor riil industri konstruksi di Indonesia. Banyaknya kompetitor bisnis sejenis ini menjadikan kredibilitas dan reputasi setiap perusahaan menjadi sangat berharga. Sehingga ketelitan akan detail suatu kosntruksi yang dibuat haruslah sesuai dengan apa yang telah diharapkan. Namun jika bicara tentang perusahaan konstruksi berskala nasional, tidak lengkap rasanya jika kita tidak membahas’ PT. Tunas Jaya Sanur’ yang menjadi pioner menggeliatnya industri konstruksi di Bali. Berbagai proyek besar, baik dari pemerintah maupun swasta sudah diselesaikan dengan baik oleh perusahaan ini. Sebut saja nama besar seperti Hyatt, Four season, St.Regis Jakarta, itu semua merupakan hasil sentuhan tangan kreatif dari seorang figur putra Bali bernama Made Dapir ‘The right man, in the right place’ dibalik suksesnya PT.Tunas Jaya Sanur. Kesuksesannya tersebut berhasil menempatkannya di jajaran entrepreneur industri konstruksi yang bergengsi dan diperhitungkan. Diawali dari proyek-proyek kecil yang dijalaninya dengan tekun, ia jadikan setiap langkahnya ini pelajaran yang sangat berharga. Suka maupun duka yang ada di dalamnya, mendidik sosok Made Dapir menjadi manusia tangguh yang siap berkarya di kemudian hari. Made Dapir lahir di Sanur pada tahun 1949, jauh sebelum gedung- gedung tinggi menjulang. Karena seingatnya pada masa sebelum tahun 1960 Pulau Bali belum mempunyai lapangan pekerjaan yang cukup, sehingga rata-rata masyarakat di Bali lebih banyak menjadi petani dan pengangun sapi. Untuk mencukupi kebutuhan hidup keluarganya Made Dapir pun harus ikut serta dalam pergulatan perekonomian dengan menjadi tukang kayu bersama kakek dan ayahnya. Dulu menjadi tukang kayu tidaklah di bayar dengan uang, melainkan hanya diberi makanan dan mendapatkan bonus berupa udeng, baju dan kamen jika pekerjaan telah diselesaikan. Meski sedari kecil sudah terus dihadapkan dengan pekerjaan yang berat, tidak pernah sekalipun Made Dapir mengeluh akan apa yang dikerjakannya, karena di dalam lubuk hatinya ia hanya ingin menjadi anak yang berbakti dan dan dapat membantu mencukupi keterbatasan ekonomi keluarganya. Dan siapa yang tahu, bahwa keseharian itulah yang membentuk keahlian Made Dapir dalam bidang pertukangan yang kelak akan mengubah garis takdir hidupnya. Sore hari selepas bekerja biasanya Made Dapir tidak langsung pulang kerumah, langkahnya langsung tertuju ke lapangan pinggir sawah dimana teman-temannya sudah menunggunya untuk melengkapi permainan ‘Gala-Gala’ yang merupakan sebuah permainan tradisional kegemarannya. Permainan ini adalah sebuah permainan grup yang terdiri dari dua grup, di mana masing-masing tim terdiri dari 3 - 5 orang. Inti permainannya adalah menghadang lawan agar tidak bisa lolos melewati garis ke baris terakhir secara bolak-balik, dan untuk meraih kemenangan seluruh anggota grup harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan. Bagi Made Dapir permainan ini tidak pernah membosankan karena pada saat memainkannya selalu saja ada tingkah lucu teman-temannya yang dapat menghadirkan gelak tawa, lalu ketika langit mulai gelap mereka pun beramai-ramai mengakhiri permainan tersebut dan pulang ke rumah dengan senyum bahagia kendati baju yang dipakai basah kuyub oleh keringat. Sosok ayah merupakan sosok yang sangat dekat dengannya secara emosional. Betapa tidak, sosok ayah lah yang memang selalu menemani kesehariannya, baik pada saat bekerja maupun di malam hari sebelum tertidur. Kilatan momen ketika ayahnya membacakan dongeng sebelum tidur akan tetap kekal dalam ingatan Made Dapir, apalagi dengan gaya mendongeng sang ayah yang selalu dapat membubuhi nasehat dan filsafat di akhir ceritanya. Mulai dari kisah yang sarat akan pesan moral seperti ‘Amad dan Muhammad’ hingga dongeng cerita daerah ‘Bawang merah,Bawang putih’ selalu bisa membuat malamnya terasa hangat sebelum akhirnya ia tertidur pulas. Keesokan harinya Made Dapir harus bangun lebih pagi untuk membantu mengangkat barang dagangan ibunya ke pasar, barang dagangan berupa kelapa dan kecambah itu kemudian ia bawa dengan menggunakan sepeda sebelumpergi ke sekolah. Rutinitas seperti itu adalah hal yang normal bagi Made Dapir untuk memulai hari-harinya yang panjang, sehingga jauh di dalam lubuk hatinya ia berimpian kuat untuk mengubah garis takdir keluarganya. Namun jika melihat realita kehidupan yang ada sekarang, membuatnya tidak telalu muluk untuk mewujudkan impian itu, menurutnya dapat membantu berbagai pekerjaan orangtuanya saja telah terasa cukup melegakan hatinya . Hingga pada tahun 1963-an program ‘Transmigrasi’ begitu popular di era Orde lama. Kala itu, pemerintah meyakini program ini sangat strategis sebagai upaya pemerataan penduduk, peningkatan produksi pertanian, dan keamanan negara. Presiden Soekarno menggenjot upaya tersebut, hingga pada tahun tersebut, sudah ada kurang lebih 2,5 juta penduduk menjadi transmigran, dan Lampung adalah salah satu provinsi tujuan utama transmigrasi. Berangkat dari pemikiran itu Made Dapir yang tengah beranjak dewasa pun sangat mendambakan dirinya untuk masuk program transmigrasi pemerintah. Namun apa boleh buat, kondisi kehidupannya pada saat itu belum bisa menuntunnya untuk mendapatkan apa yang ia dambakan, kendati ia harus menyelesaikan Pendidikan SMA-nya dan membantu orangtuanya dalam mencari pundi-pundi rupiah demi keberlangsungan hidup keluarganya. Pribadinya yang berdikari membuat Made Dapir sangat berkeinginan kuat untuk hidup mandiri. Sehingga setelah menyelesaikan ‘Sekolah Menengah Atas’, iapun mulai mencari pekerjaan agar dapat merubah garis takdir keluarganya seperti yang telah ia tekadkan sedari kecil. Berbekal ijazah SMA Dia kemudian mendapatkan peluang pekerjaan sebagai tim pengawas di suatu proyek atau sekarang lebih di kenal dengan sebutan ‘Mandor’. Kesempatannya bekerja sebagai mandor pertukangan di suatu proyek itu memang terbilang cukup mudah ia dapatkan. Karena benar saja, saat itu masih sangat sulit untuk mendapatkan orang-orang yang bisa mahir di bidang baca/tulis, sehingga dengan kemampuan itu karir Made Dapir pun dimulai dengan menjadi tim pengawas di salah satu proyek kontraktor. Terjun langsung dalam dunia pertukangan membuat Made Dapir semakin mengerti dan mulai bisa memprediksi masa depan bisnis ini. Bagi sebagian orang, menjadi seorang mandor terkesan sebagai pekerjaan yang mudah, sederhana, dan siapa saja mampu melakukannya. Tetapi menurut Made Dapir bila dicermati lebih mendalam, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Karena menjadi mandor tidak berbeda dengan mengelola usaha atau bisnis lainnya. Dalam menjalankannya tetap membutuhkan penanganan dengan menggunakan konsep dan strategi yang profesional, sehingga, proyek tersebut bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang di harapkan. Sebagai seorang pekerja di sebuah perusahaan, tentu mendapatkan tugas dan tanggung jawab untuk mengelola proyek besar adalah suatu kebanggaan. Terlebih bagi Made Dapir yang memang pada saat itu masih belum memiliki cukup pengalaman untuk mengelola proyek besar. Mendapatkan tanggung jawab besar tentunya bukan perkara yang mudah. Tugas yang besar juga memiliki resiko yang besar sebelum akhirnya dapat menikmati hasil kerja keras. Karena itu iapun harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang, sehingga di tahap ini Made Dapir biasanya menjalankan rencana yang telah ditentukan secara terperinci, mulai dari tugas masing-masing para tukang, kegiatan setiap harinya, sampai pada deadline proyek tersebut selesai. Sukses dengan beberapa proyek yang di percayakan kepadanya, membuat Made Dapir semakin mahir dalam hal pengelolaan konstruksi. Dengan ilmu itu iapun mengambil langkah besar untuk menjadi seorang kontraktor yang mulai mengajukan anggaran pembiayaan pada beberapa proyek yang ada di Bali. Alhasil, Made Dapir akhirnya mendapatkan proyek awalnya sebagai kontraktor dalam pengerjaan kantin-kantin hotel. Puas dengan hasilnya, klien-nya kembali mempercayakan dirinya untuk membangun sebuah hotel yang hanya di beri batas deadline pengerjaan selama 60 hari, dan lagi-lagi hal itu mampu dikerjakannya tepat waktu dengan hasil memuaskan, sehingga karyanya tersebut semakin menjadi buah bibir di kalangan dunia konstruksi. Dengan hasil yang gemilang dari beberapa karya konstruksi yang telah dibangunnya,proyek-proyek lain pun mulai berdatangan. Namun hal itu tak lantas membuat Made Dapir cepat puas dan pasif akan pencapaiannya sekarang, karena sebagai kontraktor ia harus terus memantau perkembangan tren properti yang sedang laris di pasaran, dan harus mampu melakukan analisa kebutuhan pasar dan tren yang sedang berkembang saat itu agar dapat meraup keuntungan paling besar karena diminati banyak orang. Dari pengalamannya itu ia mengetahui bahwa penjualan produk konstruksi tidak hanya dipengaruhi oleh hal-hal umum seperti lokasi, harga yang kompetitif, dan fasilitas yang menarik, tapi juga turut dipengaruhi oleh hal-hal yang lebih spesifik seperti desain bangunan, tren model rumah yang tengah berkembang, hingga material dasar yang digunakan untuk membangun properti para klien-nya. Sadar akan peluang yang semakin besar, lalu pada tahun 1978 Made Dapir kemudian mulai mengambil langkah lebih serius dengan membuat suatu ‘CV’ yang bernama ‘CV. Tunas Jaya’, yang ternyata nama itu di dapat secara spontan dari ucapan seorang temannya yang bernama ‘Bapak Rudia’ saat menemaninya dalam pembuatan CV di kantor notaris. Spontanitas itu terdengar ajaib memang, namun Made Dapir tampaknya sepakat dengan seorang pujangga dan aktor inggris bernama ‘William Shakespeare’ yang secara luas dianggap sebagai penulis drama ‘Apalah artinya sebuah nama’. Tentu saja hal itu masuk akal, karena sebuah nama akan menjadi berarti dan penting jika sosok di balik nama itu dapat menjalankan perannya dengan baik sehingga membawa nama itu menjadi hebat dan terdengar luar biasa. Setelah selesai mersemikan ‘CV Tunas Jaya’ miliknya, mulailah ia mencari jaringan untuk masuk berhubungan dengan orang-orang ‘Dinas Pekerjaan Umum’. Dan seperti kata pepatah ‘Pucuk di cinta ulam pun tiba’ dari sana ia mendapatkan proyek pembangunan pemerintah pertamanya untuk membangun jembatan ‘Tukad kambing’ di kawasan Singaraja, dan di tahun yang sama ia kembali mendapatkan lanjutan proyek pembangunan jalan di kawasan Batubulan hingga Payagan. Setelah ‘CV Tunas Jaya’ berjalan 3 tahun iapun kembali mengembangkan perusahaannya ketahapan yang semakin serius dan memantapkan langkahnya untuk menjadi seorang kontraktor dengan mendirikan sebuah Perseroan terbatas yang bernama ‘PT.Tunas Jaya Sanur’ yang semakin berjaya dengan beberapa proyek konstruksi bergengsi, diantaranya adalah Hotel Four Season Ubud, disusul Hotel Melia Benoa, Hotel Oberoi Lombok, hingga menembus proyek di kepulauan Natuna yang akhirnya mengukuhkan nama Made Dapir sebagai salah satu pengusaha konstruksi terbesar di Indonesia. Kini ‘PT Tunas Jaya Sanur’ telah mempunyai markas besar di kawasan jalan By Pass Ngurah Rai Sanur. Dengan karyawan yang sudah mencapai ribuan orang dan aset yang semakin meningkat, Made Dapir kini mulai melirik peluang industri pariwisata yang memiliki kompetisi ketat di Bali. Namun bukan Made Dapir namanya jika tidak optimis dalam menjalankan sesuatu, ia yakin keputasannya untuk terjun dalam industri pariwisata akan membawanya menuju satu tingkat kesuksesan yang lebih tinggi lagi, terlebih nafas perekonomian di Bali memang terletak pada industri ini. Dengan itu, Made Dapir akhirnya mewujudkannya apa yang menjadi impiannya dengan membuat sebuah properti hotel mewah bernama ‘The Alantara’ yang mengusung konsep kearifan budaya Bali dan merupakan perwujudan semua ide dari pemikirannya tentang sebuah resort yang ideal. Ide nama ‘The Alantara’ justru tercetus dari salah satu interpretasi karyawannya yang memiliki makna ‘Alam Surga’. Tak tanggung-tanggung, untuk menyempurnakan idenya itu Made Dapir pun menggandeng arsitek-arsitek ternama di Bali bahkan nasional. Diatas lahan seluas 5 ribu meter persegi itu ‘The Alantara’ memang menyajikan tampilan visual yang berbeda, hal itu dapat terlihat langsung dari konsep dinding dan properti hotel yang sengaja dibuat dari terakota khas Pejanten Tabanan dan juga Bale Kambang seperti di Kertagosa Kelungkung. Atmosfer Budaya Bali tidak hanya terasa lewat gaya arsitektur bangunannya saja, melainkan juga dapat dilihat dari konsep penataan ruang terbuka yang secara keseluruhan selaras dengan bangunan hotelnya, dimana para tamu yang menginap akan disuguhkan dengan pemandangan indah warna-warni flora tropis khas Bali.Semua nuansa itu akhirnya menjadi satu kekuatan penuh untuk mengenalkan Bali lebih dekat kepada para tamunya. Dengan semua kesuksesan yang telah dimiliki oleh Made Dapir sekarang, mengingatkan kita kembali bahwa keringat dari kerja keras akan menjadi anak sungai yg akan terus mengangkut sampan impian seseorang. Namun janganlah lupa diatasnya tumpangkan pula impian-impian manis banyak orang ketika sampan itu menjadi terlalu luas ketika hanya dihuni impian sendiri. “Dunia akan terus bertumbuh, maka dari itu kita harus mempersiapkan diri untuk terlibat dalam setiap pertumbuhannya” begitu ucap Made Dapir.(*/jaya Sempurna)   Sumber : www.majalahwisata.com

Editor: Administrator

Tags

Terkini

Raja Inggris Charles Dinobatkan Mei 2023

Rabu, 12 Oktober 2022 | 20:42 WIB

Ini Kata Gatot Nurmantyo Soal Pilpres 2024

Sabtu, 12 Juni 2021 | 01:36 WIB

Medsos Buka Peluang Milenial Terjun ke Politik

Sabtu, 17 April 2021 | 23:31 WIB

Pak Bekti Mengabdi untuk Pendidikan PWI

Minggu, 11 April 2021 | 15:29 WIB

Pengurus PWI Bengkulu yang Pro Aktif Tutup Usia

Senin, 5 April 2021 | 19:14 WIB
X